CIMAHI, TANGANMEDIA.ID – Pembangunan di tingkat kewilayahan Kota Cimahi tak hanya bertumpu pada anggaran pemerintah. Di balik sejumlah hasil pembangunan yang lahir melalui Program Pembangunan Masyarakat (PPM) 2026, ada gotong royong warga yang ikut menjadi kekuatan utama.
Program PPM Kota Cimahi tahun 2026 resmi ditutup di Cimahi Technopark, Selasa (11/8/2026). Penutupan dihadiri langsung Wali Kota Cimahi Ngatiyana bersama anggota DPRD, Kejaksaan Negeri Kota Cimahi, jajaran Polres Cimahi, Kodim, organisasi perangkat daerah (OPD), serta ratusan Ketua RW dan kelompok masyarakat (Pokmas) se-Kota Cimahi.
Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana memberikan apresiasi kepada masyarakat yang ikut menyukseskan pembangunan melalui semangat swadaya dan gotong royong.
Menurutnya, besarnya kontribusi masyarakat menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pembangunan lingkungan masih kuat. Bahkan, nilai swadaya masyarakat yang mencapai miliaran rupiah menjadi indikator bahwa warga tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi ikut merasa memiliki pembangunan.
“Kalau ada swadaya sampai miliaran rupiah, artinya masyarakat masih memiliki semangat yang tinggi untuk membangun Kota Cimahi bersama-sama,” ujar Ngatiyana.
Ia menegaskan, PPM bukan sekadar skema bantuan pemerintah kepada masyarakat. Program tersebut dirancang dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pembangunan di wilayahnya.
“Pembangunan yang paling kuat bukan pembangunan yang paling banyak menghabiskan anggaran, tetapi pembangunan yang paling besar rasa memilikinya di masyarakat,” katanya.
Bagi Ngatiyana, filosofi tersebut menjadi kekuatan utama PPM. Pemerintah hadir memberikan dukungan, sementara masyarakat turut menentukan, melaksanakan sekaligus menjaga hasil pembangunan.
“Pembangunan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan kembali untuk masyarakat,” tegasnya.
Tuntas di Seluruh RW
Ngatiyana menyampaikan bahwa pelaksanaan PPM 2026 telah rampung di seluruh RW di Kota Cimahi. Proses pembangunan tidak berjalan sendiri, melainkan mendapatkan pendampingan dan pengawasan dari berbagai unsur.
Kejaksaan Negeri, Polres, Kodim dan jajaran pemerintah daerah ikut terlibat dalam mengawal pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pembangunan berjalan sesuai ketentuan, tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Yang paling penting mari kita bekerja sama dan bekerja bersama-sama, sehingga sasaran pembangunan masyarakat bisa tercapai,” tuturnya.
Bagi pemerintah, keberadaan pengawasan lintas sektor juga menjadi bagian dari upaya meminimalkan potensi persoalan dalam pelaksanaan pembangunan di tingkat kewilayahan.
Sementara itu, keberlanjutan PPM pada tahun mendatang masih akan dibahas bersama DPRD Kota Cimahi. Ngatiyana mengatakan keberadaan program tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.
“Kalau tahun depan masih ada, mudah-mudahan program ini bisa tetap berjalan. Kita doakan saja tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.
Dijadikan Kado Kemerdekaan
Rampungnya berbagai kegiatan PPM 2026 juga memiliki makna tersendiri bagi Pemkot Cimahi. Ngatiyana menyebut hasil pembangunan tersebut dapat menjadi bagian dari semangat menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Beragam hasil pembangunan yang telah dikerjakan masyarakat, mulai dari jalan setapak, sarana lingkungan, fasilitas RW hingga pembangunan biopori, diharapkan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Namun, Ngatiyana mengingatkan bahwa pembangunan tidak berakhir ketika proyek selesai. Tantangan berikutnya justru bagaimana masyarakat menjaga dan merawat hasil yang telah dibangun bersama.
“Kalau sudah dibangun, tolong dirawat. Anggap saja hasil pembangunan itu milik kita sendiri, sehingga masa pakainya bisa panjang,” pesannya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa keberhasilan PPM tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan atau besarnya anggaran yang terserap. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah sejauh mana hasil pembangunan benar-benar digunakan, dirasakan manfaatnya dan dipelihara masyarakat.
Dengan berakhirnya PPM 2026, Pemkot Cimahi berharap semangat gotong royong tidak ikut berhenti. Sebab, ketika masyarakat merasa memiliki, pembangunan tidak hanya menjadi proyek pemerintah, tetapi berubah menjadi aset bersama yang dijaga untuk kepentingan lingkungan dan generasi berikutnya.


0 Komentar